Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Senin, 21 Januari 2013

Jawaban Untuk Pejuang Dakwah

By on 21.1.13

Mengapa kemenangan dakwah tak kunjung datang, padahal gerakan dakwah ini semakin lama semakin matang? Mengapa nashrullâh
tak kunjung turun, padahal perjuangan dakwah ini sudah berjalan puluhan
tahun? Mengapa Khilafah tak kunjung tegak berdiri, padahal jamaah
dakwah ini, selama ini, konsisten mengikuti manhaj Nabi saw.?


Mungkin
beberapa pertanyaan di atas pernah terbersit dalam jiwa setiap syabab
pengemban dakwah, tentu yang senantiasa menjadikan dakwah sebagai fokus
perhatian dan poros hidupnya. Tidak jarang, pertanyaan-pertanyaan
semacam ini memunculkan keraguan dalam jiwanya terhadap kesahihan fikrah (pemikiran) dan tharîqah
(metode dakwah) yang selama ini ditempuh gerakan dakwahnya. Tidak
jarang pula pertanyaan-pertanyaan di atas membersitkan ketidak-tsiqah-an dirinya terhadap harakah dakwah sekaligus qiyâdah-nya.


Pertanyaan-pertanyaan
di atas sebetulnya wajar, bahkan harus selalu menjadi bahan tafakur dan
renungan setiap pengemban dakwah. Dengan itu ia akan selalu bersikap
kritis terhadap setiap penyimpangan—hatta seujung rambut—yang dilakukan
oleh jamaah dakwahnya dari manhaj dakwah Rasulullah saw. Namun, sudah
selayaknya pertanyaan-pertanyaan itu juga memunculkan sikap kritis
terhadap dirinya sendiri. Sudahkah ia menjadi pengemban dakwah sejati
sebagaimana Rasulullah saw. dan para Sahabatnya? Sebab, jangan-jangan
tertundanya nashrullâh dan tak kunjung tegaknya Khilafah adalah karena
kualitas keimanan maupun ketakwaan kita yang masih sangat jauh
dibandingkan dengan generasi salafus-shâlih dulu.


*****


Rasulullah
saw. dan para Sahabatnya, juga generasi salafush-shâlih setelah mereka,
meraih kemenangan demi kemenangan atas musuh-musuh mereka karena mereka
senantiasa berpegang teguh pada agama ini.


Di
dalam banyak kitab Sîrah telah diriwayatkan bahwa musuh mana pun tidak
sanggup bertahan lama menghadapi para Sahabat Rasulullah saw., bahkan
Kerajaan Romawi sekalipun, yang saat itu merupakan sebuah ‘negara
adidaya’.


Mengapa
pasukan Romawi bisa dikalahkan oleh kaum Muslim? Inilah yang juga
menjadi pertanyaan Heraklius, penguasa Romawi saat itu. Saat berada di
Antakiah dan pasukan Romawi pulang dalam keadaan kalah menghadapi kaum
Muslim, Heraklius berkata kepada pasukannya, “Celaka kalian!
Jelaskan kepadaku tentang orang-orang yang berperang melawan kalian?
Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?!”


“Benar,” jawab pasukan Romawi.


“Siapa yang lebih banyak pasukannya, kalian atau mereka?”


“Kami lebih banyak pasukannya beberapa kali lipat di semua tempat.”


“Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?” Tanya Heraklius lagi.


Salah seorang tokoh Romawi berkata, “Karena
mereka biasa melakukan salat malam, berpuasa pada siang hari, menepati
janji, melakukan amar makruf nahi mungkar dan berlaku adil kepada
sesama mereka. Sebaliknya, kita biasa minum minuman keras, berzina,
melakukan keharaman, ingkar janji, merampok, menzalimi orang,
memerintahkan hal-hal haram, melarang hal-hal yang diridhai Tuhan serta
membuat kerusakan di muka bumi.”


Kepada tokoh itu, Heraklius berkata, “Kamu benar!” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Malik, dalam kitab Al-Bidâyah (VII/15); juga oleh Ibnu Asakir).


Sebab-sebab
pembawa kemenangan juga pernah dijelaskan oleh salah seorang intel
Romawi yang dikirim untuk menyelidiki kondisi kaum Muslim. Usai
menjalankan tugasnya, intel itu menjelaskan kondisi kaum Muslim,
“Mereka adalah ‘para biarawan’ (para ahli ibadah) pada malam hari dan
para pendekar ulung pada siang hari. Jika anak penguasa mereka mencuri,
mereka memotong tangannya, dan jika ia berzina, mereka merajamnya,
untuk menegakkan kebenaran di tengah-tengah mereka.”


Mendengar itu, atasan sang intel itu berkata, “Jika
laporanmu ini benar, perut bumi (kematian, pen.) lebih baik bagiku
daripada berhadapan dengan mereka di atas permukaan bumi. Aku berharap
Tuhan tidak mempertemukan aku dengan mereka.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi, dalam As-Sunan al-Kubrâ, VIII/175).


****


Jelas,
kemenangan generasi Muslim terdahulu adalah karena keteguhan mereka
dalam berpegang teguh dengan agama ini. Sebaliknya, kekalahan yang
mereka alami adalah karena kebalikannya.


Jika
kita menelaah Perang Uhud, misalnya, kita akan menemukan bahwa sebab
kekalahan kaum Muslim di dalamya ialah karena perilaku sebagian kecil
dari mereka yang tidak menaati perintah Rasulullah saw. Sebagian
pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4% dari jumlah total
pasukan kaum Muslim ketika itu, melakukan tindakan indisipliner. Mereka
bermaksiat terhadap perintah Rasulullah saw. Akibatnya, 70 orang
Sahabat terbunuh; perut mereka dibelah; hidung dan telinga mereka
dimutilasi; Rasulullah saw. sendiri terluka, wajah Beliau tergores, dan
gigi antara gigi seri dan gigi taring Beliau rontok.


*****


Jadi, mengapa nashrullâh
tak kunjung turun, kemenangan tak kunjung datang dan Khilafah tak
kunjung tegak? Boleh jadi, semua itu berpangkal pada kemaksiatan kita,
bukan karena ketidaksahihan fikrah dan tharîqah dakwah kita. Mungkin
karena selama ini kita pun bermaksiat kepada Allah Swt. dan
Rasulul-Nya. Mungkin selama ini kita belum bisa menjaga kejernihan
akal-pikiran kita; belum bisa memelihara kebersihan hati kita dari
penyakit riya, ujub, sombong, ambisi jabatan, dll; belum mampu
melindungi pandangan kita dari hal-hal yang haram; belum sanggup
menjaga lisan kita dari ucapan-ucapan yang tidak berguna; dan belum
dapat mengendalikan anggota tubuh kita dari perilaku maksiat. Mungkin
selama ini kita juga sering melalaikan akad, mengkhianati amanah
(terutama amanah dakwah) serta melanggar janji dan sumpah (terutama
untuk taat dan patuh pada qiyâdah atas nama Allah).


Jika
semua itu yang memang menjadi faktor mengapa nashrullâh, kemenangan dan
Khilafah tak kunjung segera terwujud, maka tidak ada cara lain selain
kita harus segera bertobat dengan tawbat[an] nashûha; kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan segala kesucian jiwa-raga.


Wa mâ tawfîqî illâ billâh. (Arief B. Iskandar)

(sumber: http://cahayaygkembali.blogsland.net/Rahbar-ar-rasyid-ibn-b1/DISINI-MUNGKIN-PERTANYAANMU-DIJAWAB-b1-p7.htm[21-01-2013])

0 komentar:

Posting Komentar

Saya sematkan ucapan terimakasih atas kunjungan dan komentar Anda. Semoga semakin jelas apa yang selama ini meragukan pribadi Anda! Salam Sukses dan Salam Bahagia
ttd
Han Prahara & Ailuana Jr