Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Senin, 21 Januari 2013

Kematian Seorang Jenderal

By on 21.1.13

Kematian seorang raja menjadikan sebuah kekuasaan diperebutkan bahkan seorang Jendral yang pernah memimpin ribuan pasukan tak mampu menghalangi laju perubahan itu, ketika keadaan yg genting itu wabah perpecahan terjadi dimana-mana dan tak dapat dielakkan, ketika sang jenderal pergi menjemput sang raja terpilih, kekuasaan telah diambil alih, bagaimana sang Jenderal menghadapinya? Ini baru sebuah awal cerita yang panjang tentang seorang ksatria sejati.
dilatari oleh dua generasi pasukan perang yang dipisahkan oleh waktu, generasi tetua yang dipimpin jenderal legendaris kerajaan, dan generasi muda yang dipimpin jenderalnya yang tak pernah kalah dalam setiap peperangan.
Sebuah keputusan telah diambil, sang Jenderal legendaris (tetua ibrahim) tanpa seorang pasukanpun menghadang rombongan yang telah menghianatinya, tidak kurang 1000 pasukan terbaik dihadangnya sendirian. Apakah sang Jenderal akan mati sia-sia?

 Suasana begitu hening orang yang hendak mereka cari sekarang berada dihadapan mereka, Abraha jenderal yang tak pernah kalah itupun menyeringai senang. Akan ditumpahkannya darah orang yang selama ini selalu mengkritisinya dalam memimpin perang, akan dijadikan darah orang tua itu pelicin kemenangan besar yang ia cita-citakan, kemudian sepasukan berkuda tanpa menunggu komando kedua kalinya, langsung menyerang jenderal dengan pedang panjangnya itu, gumpalan debu tercipta cukup besar dari hentakan kuda yang ditarik dengan kencangnya. Disisi belakang barisan pasukan berjajar rapi, Seorang pemuda memimpin disetiap barisa.  

Seketika sosok yang kami segani itu tak tampak lagi terselimuti debu yang berkobar dalam panas yang menyenget, kembali dikagetkan oleh terpelantingnya seorang pengendara kuda, debu semakin menggelap dan semakin menggilanya pertarungan disana hingga beransur-ansur debu itu memudar sang jenderal besar tegak berdiri memanggul pedangnya dan musuh-musuhnya telah jatuh mencium tanah, sementara kuda-kuda yang kehilangan tuannya itu menjauh mungkin mereka tau bahwa tak lama lagi tempat itu akan dipenuhi darah. Aku menarik nafas dalam, melihat hal yang tak pernah kusangka akan terjadi, masih seperti kemarin bagiku perang pertama yang hampir membuat 1000 pasukan cadangan dibantai oleh 5ribu pasukan terbaik Rum, dan aku termasuk didalam keseribu pasukan yang akan menjadi bulan-bulanan itu, sebagai seorang prajurit awal, aku ditempatkan jaga dibagian bukit, bukit ash namanya, bukit kecil yang dari sanalah benteng terdepan kerajaan makruf menjadi cukup mudah ditaklukkan, berupa lereng tinggi yang tak begitu besar hanya berukuran tiga kuda yang berbaris, ada sebuah legenda di tempa itu konon tempat itu adalah sebuah perahu yang digunakan seorang kekasih yang mengejar perempuan yang ia yakini sebagai jodohnya dikehidupan yang lalu, namun perahunya terdampar saat ia mulai ragu dengan keyakinannya itu, sang kekasih tak mampu lagi mengendalikan perahunya.

Dibukit ash ini kami telah membuat pertahanan terkuat yg bisa kami usahakan saat itu yaitu sebuah parit panjang sebagai lintasan yang kami beri bola dari bambu-bambu tajam sebagai senjata, kemudian saat barisan pasukan Rum datang kami gelindingkan bola itu dan berjatuhanlah pasukan rum kemudian pasukan yang tersisa kami bunuh tanpa sisa darah pertama yang mengalir dari pasukan Rum membangkitkan semangat kami kemudian 2000 pasukan Rum kami pukul mundur, tapi ternyata dalam kelelahan itu pasukan pemantau kami melihat barisan pasukan yg sangat rapat menuju ketempat kami barisan itu tak tampak ujungnya yang akhirnya kami tau jumlahnya 3000 pasukan, tapi semangat kami tak mundur kami yakin bantuan akan datang bila pasukan bantuan Rum yang jaraknya 21kilo datang dngan 3ribu pasukan kami yakin pasukan Makruf akan datang dengan jumlah yang jauh lebih banyak namun hingga separuh pasukan kami gugur dan kami yang tersisapun telah kehabisan tenaga bantuan itu tak kunjung datang, sementara pasukan Rum makin ganas melihat tanda-tanda kelelahan kami, mereka tau untuk melawan 2 ribu pasukan awal tadi kami telah memakai seluruh kekuatan kami dan seolah mereka yakin bantuan bagi kami tak akan datang, semakin terdesak kami tak bisa mundur lagi dibelakang kami adalah bukit yang bila jatuh jenasah kami akan hanyut dan didepan pasukan Rum membantai kami satu persatu, disaat seperti itu tiba-tiba bagian belakang iringan pasukan Rum menjadi berantakan asap hitam berkobar dan kemudian semakin ketengah, aku sedikit memalingkan pandangan namun cepat-cepat tersadar saat kilatan pedang tentara Rum berlomba menusukku keadaan kami benar-benar diujung tanduk, mereka hampir menduduki wilayah terakhir kami yang kami lindungi dengan bambu bambu inilah tempat yg mereka incar tempat strategis untuk melepas anak panah, menghujani benteng ashani dari sisi timur, sudah tak terhitung brapa luka yang ada dalam tubuhku kulihat dikiri kananku temanku sudah berjatuhan sementara dibelakangku teman2ku yang terluka, sementara disisi lain masih ada beberapa temanku yg masih mempertahankan posnya, sekali lagi kusempatkan melihat asab yang masih agak jauh, pasukan bantuan telah datang, tp aku tak kuat lg, kini badanku benar benar akan tercabik-cabik oleh pedang rum namun aku masih sempat bergerak sejadinya dengan energi terakhir yang ada dalam setiap mili darahku... Seperti apa rincian kisah ini akan mengalir...

diposkan kembali dari Blood, Princip, and Love: Perjuangan Sejati[http://cahayaygkembali.blogsland.net]

0 komentar:

Posting Komentar

Saya sematkan ucapan terimakasih atas kunjungan dan komentar Anda. Semoga semakin jelas apa yang selama ini meragukan pribadi Anda! Salam Sukses dan Salam Bahagia
ttd
Han Prahara & Ailuana Jr