Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Senin, 22 Juli 2013

Ceramah Nuzulul Quran 17 Ramadhan

By on 22.7.13

KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puji bagi Allah SWT. Alhamdulillahilladzi liyadzadu
iimaanan maa 'aimaanihim. Sholawat dan salam semoga
tercurah selalu bagi Rasulullah panutan kita, yang
membangunkan dan menuntun hati nurani kita, menjadi cahaya
bagi segala perbuatan mulia.

Bangsa kita sesungguhnya dikaruniai Alloh potensi yang
begitu dahsyat, yang jika disyukuri dengan cara mengelolanya
dengan tepat, niscaya berpeluang menjadi negara besar yang
berwibawa dan bermartabat.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah ruah
baik berupa daratan, lautan serta apapun yang terkandung
didalamnya; maupun lokasi geografis dan keindahan alam,
negeri kita bagaikan percikan surga yang tertetes di dunia.
Potensi manusia dengan jumlah dua ratus duapuluh juta
lebih dengan aneka kemampuannya, merupakan aset berharga
jika disinergikan dengan formula yang tepat.
Dan aset yang tidak ternilai harganya adalah sumber
keyakinan bagi mayoritas penduduk Indonesia, yaitu aqidah
Islam yang diyakini bersama sebagai agama yang paripurna,
rahmatan lil `alamiin, yang dapat menjadi solusi yang universal.
Namun, bila kita melihat kenyataan, ternyata semua
potensi seakan-akan tidak berbuah kenyataan yang dicita-
citakan bersama. Bahkan, aneka bala dan musibah dari
berbagai sisi kehidupan begitu lekat dan memilukan.
Sudah kita dengar bersama upaya untuk menyehatkan
dan mensejahterakan masyarakat, namun kita wajib
mengevaluasi hal-hal pokok yang menjadi kunci permasalahan.
Masyarakat kita relatif berbadan sehat, juga berpikir
normal, bahkan sebagian ada yang berfisik sangat kuat dan
berotak cerdas. Hanya sedikit masyarakat yang berpenyakit
lahir dan ia juga berpenyakit akal. Rupanya yang sedang
berjangkit di negara kita secara umum, justru penyakit
qolbu/hati nurani. Karena orang yang kuat dan cerdas akal
pikirannya, yang tidak sehat qolbunya ternyata mereka itulah
yang menjadi biang-biang kerusakan dan kesengsaraan bagi
bangsa ini.

Dengan kata lain, kelemahan bangsa kita ini adalah
belum sungguh-sungguh memprogram untuk menghidupkan
dan membangkitkan kekuatan nurani yang akan menuntun akal
pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan
dan kehormatan yang hakiki, karena qolbu adalah inti
terpenting dari manusia yang akan mengatur segala sikapnya.
Sabda Rasulullah:
"Alaa inna fil jasad mudhgoh Idza soluhat soluha jazadukuluhu
Waidza fasadat fasada jasadukuluhu Alaa wa hiyal qolbu"
"Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging.
Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh
tubuhnya.
Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya.
Segumpal daging itu bernama qolbu." (HR. Bukhari Muslim)
Dan sumber kerusakan ini menurut Rasulullah adalah:
Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh
bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap
isi mangkok. Para sahabat bertanya, "Apakah pada saat itu
jumlah kami sediit ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak,
bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali, tetapi seperti buih
air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn". Mereka bertanya
lagi, "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?", beliau
menjawab "Hubbud dunya (kecintaan yang amat sangat kepada
dunia ) dan takut mati". HR Abu Dawud

Gejalanya bisa kita lihat dari tingkah polah dalam
memperebutkan duniawi ini (harta, kedudukan, kekuasaan,
popularitas, kesenangan duniawi, gelar, pangkat, jabatan yang
ditujukan hanya untuk kepuasan dunia belaka), tidak sedikit
orang yang menghalalkan cara-cara tak terpuji sehingga
mendzolimi hak-hak orang lain. Bagi yang telah
mendapatkannya, juga melakukan perbuatan yang tak mulia
yaitu dengan gemar pamer kemewahan, hidup dengan biaya
tinggi, menjadi jalan kecurigaan dan kedengkian bagi yang lain;
dan untuk mempertahankan dunia yang dimilikinya sering pula
melakukan tindakan yang melupakan kepentingan masyarakat.
Bagi masyarakat yang ada dalam keterbatasan, melihat situasi
yang materialistis membuat terbuai angan-angannya sehingga
melakukan tindakan yang mencoreng harga dirinya.
Pendek kata, budaya cinta dunia atau materialistis adalah
biang masalah yang beranak-pinak dengan kesombongan,
kemewahan, kedengkian, keserakahan, kezoliman dan bercucu
pada permusuhan, keinginan untuk menghancurkan orang lain,
dan akibatnya seperti yang kita rasakan sekarang ini.
Kita harus mulai membangunkan nurani masyarakat dengan
cara mensosialiksasikan obat penyembuhnya, yaitu membangun
hidup mulia dengan bersahaja, hidup proporsional, tidak
berbudaya bersembunyi dibalik topeng duniawi dan hal ini
sangat memungkinkan kita lakukan setidaknya dengan empat
kunci :
1. Suri tauladan yang nyata
Harus menjadi kesadaran para pemimpin bahwa mereka
benar-benar diperhatikan dan ditiru oleh masyarakat.
Kita harus membudayakan memilih para pemimpin yang
berani hidup bersahaja dan mengutamakan kemampuan memimpin
dengan adil dan profesional, dibanding dengan orang
yang hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaaannya.
Nabi Muhammad SAW membangun peradaban dengan menjadi suri
tauladan yang nyata. Ini harus menjadi budaya bagi para
pemimpin, dengan tidak menyuruh orang lain sebelum
menyuruh dirinya sendiri. Tidak melarang orang lain sebelum
melarang diri sendiri. Lebih banyak berkata dengan karya dan
tauladan nyata, daripada hanya berbuat dengan perkataan.
Masyarakat sesungguhnya sangat tercuri hatinya kepada
para pemimpin yang bisa berbuat banyak, namun amat
bersahaja dalam hidupnya. Pada saat yang sama,
masyarakatpun teramat curiga dan dengki kepada para
pemimpin yang hidup glamour, yang mereka yakini semuanya
itu adalah uang rakyat.
2. Pendidikan dan pelatihan, juga pembinaan secara
sistematis berkesinambungan terhadap masyarakat
Perlu kesadaran dan kesepakatan bersama untuk mendidik
segala lapisan masyarakat dengan menggunakan seluruh media
yang ada untuk mengetahui nilai-nilai keutamaan hidup berhati
bersih, bernurani dan hidup tidak materialistis, baik lewat
pendidikan di sekolah/kampus, melalui aneka sinetron
film/televisi ataupun radio, untuk mendampingi pendidikan
lewat suri tauladan dari para pemimpin / tokoh panutan
masyarakat.
3. Sistem yang kondusif
Kitapun harus bekerja keras untuk membangun system
dalam bentuk undang-undang, aturan-aturan lainnya yang
mendukung perubahan sikap di masyarakat untuk tidak berjiwa
materialistis dan sangat menghargai nilai-nilai kemuliaan
ahlak dan moral, dengan cara membuat peraturan yang benar-
benar adil dan konsisten untuk menegakkannya.
Nabi Muhammad berlaku adil terhadap siapapun, termasuk kepada
keluarganya sendiri.
Menegakkan supremasi hukum adalah bagian kunci yang
teramat penting untuk membangun harapan di masyarakat,
bahwa memburu dunia tidak dengan cara yang benar, akan
mendapatkan hukuman yang setimpal. Menegakkan hukum
dengan adil, tidak dengan kebencian dan dendam, akan
membuat keadilan menjadi sesuatu yang indah dan menjadi
tumpuan semua pihak.
Ketidak-seriusan menegakkan sistem yang adil akan
mengundang ketidakpuasan, dan ini akan mengundang pula
aneka masalah yang lebih pelik dan merugikan.

4. Membangun kekuatan ruhiyah
Sebagai orang yang beriman, selalu harus kita sadari bahwa
kita semua hanya sekedar mahluk yang sangat banyak memiliki
keterbatasan, dan Alloh-lah yang Maha Kuasa menolong
siapapun yang Dia kehendaki, karena Dia-lah yang
menggengam segala masalah dan jalan keluarnya.
Laa haulaa walaa quwwata illa billahil aliyil'aziim.
Maka, harus dicanangkan kebangkitan ruhiyah nasional
dengan memotivasi masyarakat untuk melakukan kebangkitan ibadah
dengan benar lebih intensif. Baik yang fardhu maupun sunah,
yang tentu diawali dengan suri teladan dari semua tokoh panutan
dan difasilitasi baik tempat, waktu/kesempatan, dan dana,
agar masyarakat --selain lebih terkendali-- juga doa-doanya
mendatangkan pertolongan Allah seperti yang dijanjikan.
Surat at Thalaq ayat 23 menyatakan, yang artinya,
"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah
akan memberi jalan keluar dari segala urusannya dan memberi
rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka, dan barang siapa
yang bertawakal niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya."
Amatlah tipis harapan kita akan keluar dengan baik
dari permasalahan ini tanpa bimbingan Allah, karena manusia
amatlah terbatas dalam segalanya, tak mampu berbuat apa pun
tanpa izin-Nya.

Penutup
Semoga dengan kombinasi ikhtiar lahir batin, suri
tauladan yang nyata, pola pendidikan dan pembinaan juga
sistem yang kondusif dan ketangguhan dalam ibadah seluruh
elemen masyarakat, menjadikan semua masalah yang ada pada
bangsa kita ini akan membuahkan budaya hidup baru yang
benar-benar akan menjadi fondasi bagi masyarakat maju yang
beradab.
Yaitu masyarakat yang produktif dalam aktivitas di dunia,
namun didasari dengan niat yang bersih karena Alloh,
menjalankan aktivitasnya sebagai ibadah dan diwarnai dengan
kebersihan hati, jauh dari segala kesombongan, riya,
kedengkian, cinta dunia atau aneka penyakit hati lainnya, yang
semua ini akan terpancar dari ahlak yang bermutu tinggi di
lapisan manapun mereka berkiprah.
Dan warisan terbesar dari setiap insan yang diberi
amanah adalah kemuliaan pribadi, buah dari kebersihan hati
yang merupakan tanda kesuksesan dan keselamatan kehidupan
seorang manusia, yang lebih tinggi nilainya dari topeng duniawi
apapun yang disandangnya sejenak didunia ini.
Hanya kepada Alloh-lah kembalinya segala urusan, dan
hanya Dia-lah yang akan menerima amal, dan tiada pertemuan
dengan-Nya kecuali hanya orang yang berhati bersih dan
selamat.
by :KH Abdullah Gymnastiar

Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan,keburukan,mau pun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.

Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah,tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya 'babak belur', di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yangmenginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadahi untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.

Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnyajuga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memi kirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.

Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesunggu han untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan kebe ranian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk

mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani meli hat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati.

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigi han kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.

Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri.Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.

Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.

Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makinsung guh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapipembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan.Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.

Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawalidari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien

0 komentar:

Posting Komentar

Saya sematkan ucapan terimakasih atas kunjungan dan komentar Anda. Semoga semakin jelas apa yang selama ini meragukan pribadi Anda! Salam Sukses dan Salam Bahagia
ttd
Han Prahara & Ailuana Jr