Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Jumat, 18 Desember 2015

Sok Alim atau Sok Bejat

By on 18.12.15

Sebagai seorang manusia beraneka ragam sikapnya, beraneka ragam responnya dalam menerima dakwah.
Yang paling sering kita terima adalah ungkapan 'jangan sok alim' atau sejenisnya.

Pada tulisan ini saya akan membahas lebih dalam bahwa kata-kata ini tidak tepat dan berbahaya jika tidak kita waspadai. Secara pemikiran normalnya mereka yang mendapat kata ini akan surut dalam dakwah karena merasa dirinya belum pantas untuk berdakwa. Namun yang sebagian kecil tidak akan menyerah dengan kata ini bahkan semakin bersemangat berdakwah. Kenapa? Karena kata sok alim sebenarnya adalah kata yang baik dimana ada kata netral yaitu sok yang berarti sikap berlebihan dan alim suatu kata positip yang berarti baik. Sehingga kalau di pahami harusnya bernilai positip. Lalu kenapa bisa mengendurkan semangat dakwah?

Logikanya seperti ini, ada seorang pemuda yang penuh khilaf dan sedikit tahu agama namun dia gak mau menyerah dan ingin terhindar dari maksiat maka dia tanpa sengaja mengingatkan temannya. Padahal teman yang diingatkan sama sekali tidak peduli atau berubah namun pemuda ini yang malah ingat telah mengingatkan temannya maka ia berusaha agar tidak terjerumua kepada hal tersebut. Terkadang karena mengingatkan hal baik atau sok alim sehingga ia menjadi malu untuk ikuy maksiat.
Ketika bertemu dengan wanita cantik yang pakaiannya ketat ia maka normalnya ia akan tergoda untuk melotot namun karena sok alim dia menjadi malu melakukan hal itu. Ketika dia mau membohongi temannya karena sok alim ia tidak jadi melakukannya dan masih banyak lagi keburukan karena sok alim jadi terhindar darinya. Apakah hal itu tidak baik.

Mari bandingkan dengan kata 'sok bejat'. Ini hanya permisalan jika ada kecocokan tokoh semoga terjaga dari fitnah.

Si fulan yang memiliki pendidikan agama tinggi sehingga merasa berbeda dan berjarak dengan teman-temannya. Bagaimana agar bisa lebih akrab dengan temannya maka ia memilik jadi sok bejat. Ketika temannya berkata yang buruk maka ia juga berkata demikian bahkan karena asing dengan hal itu ia merasa ketagihan dan berkata lebih buruk/jorok dari temannya, agar ia kelihatan sok bejat. Ketika temannya bercerita telah melakukan hal buruk ia merasa keburukannya masih kalah, di lain kesempatan ia malah bercerita lebih buruk lagi bahkan ditambah-tambahi dan telah berbohong. Lebih parah lagi ketika berjalan waktu ia memiliki kesempatan untuk berbuat baik namun karena ingin  sok bejat ia memilih tidak melakukan kebaikan itu. Tidakkah ini menjadikan kira melepas hal positif karena menjadi sok bejat.
Sungguh terlalu.

Kembali kita gunakan operasi matematik lingguistik, jika kamu cari dibuku manapun tidak akan ketemu karena hanya saya yang memakainya ^^
Perhatikan kata 'sok bejat'. Kata Sok bernilai netral dan kata bejat bernilai negatif. Sehingga gabungan kata ini harusnya bernilai negatif.
Maka kesimpulannya jika dalam usaha kebaikan Anda, kemudian ada yang mencerca 'dasar sok alim'. Pikiran positiflah yang harusnya muncul... alhamdulillah ini lebih baik dari pada saya harus jadi sok bejat.

0 komentar:

Posting Komentar

Saya sematkan ucapan terimakasih atas kunjungan dan komentar Anda. Semoga semakin jelas apa yang selama ini meragukan pribadi Anda! Salam Sukses dan Salam Bahagia
ttd
Han Prahara & Ailuana Jr