Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Muslim yg membiarkan saudaranya terjebak keburukan, keburukan itu pasti berlahan menghampirinya

Sabtu, 16 Desember 2017

Toleransi Muslim terhadap Natal

By on 16.12.17

Tips Bertoleransi Terhadap Perayaan Natal Ala Ustadz Felix Siauw, Patut Ditiru!

23. “Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa) | Namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan”.

24. “Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur’an | Namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan”.

25. “Sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya | Namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan”.

26. “Sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur’an | Dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa”

27. “Dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Qur’an Surat 19:33).

28. “Kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya | Juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim”.

29. “Sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) | Tidak mampu kami menyelisihi Isa”

30. Sedang Isa bin Maryam berpesan | “Sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi” (QS 19:30).

31. Amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal | Tidak juga mengucap “Selamat Natal” pada satu hal yang batil.

32. Kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan | Bukan salam pada hari kelahiran Tuhan.

33. Begitulah saya jelaskan dengan baik | Dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah.

34. Alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik | Bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka.

35. Alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim | yg tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua.

Islam dan keunikan sholat

By on 16.12.17

Islam adalah agama yang unik, karenanya mampu menarik perhatian khalayak umum, keunikan Islam karena ajarannya yang mendasar. Misalkan sholat, dari pembahasan sholat saja dapat menjadi ratusan kitab yang berbeda, karena untuk sholat saja tidak semua orang mampu melaksanakan, padahal sederhana, secara umum apa yang sering kita lakukan akan menjadi keahlian kita, namun jika Anda muslim dan senantiasa melaksanakan sholat, apakah Anda sudah merasa ahli dalam hal sholat. Inilah keunikan Islam, sebagai karunia dari Allah yang senantiasa menguji kita untuk terus belajar bahkan menulis untuk meningkatkan kwalitas sholat. Allahuakbar.

Selasa, 07 November 2017

PENDIDIKAN YANG MENUMBUHKAN

By on 7.11.17

sambutan Pak Anies Baswedan ttg pendidikan.

Berikut ini adalah catatan ringkas dari sambutan
*Bpk Anies Rasyid Baswedan,*
mantan menteri pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta ketika membuka acara *Education Expo ASESI (Asosiasi Sekolah Sunnah Indonesia)*
di TMII tanggal 29 Oktober 2017.

----------------------------------

~Pendidikan adalah
tentang masa depan.
~Pendidikan adalah
tentang menyiapkan generasi baru.   ~Pendidikan bukanlah membentuk, tapi
~Pendidikan adalah
menumbuhkan.
Karena ia menumbuhkan,
maka hal yang fundamental
yang dibutuhkan adalah....
*tanah yang subur dan juga iklim yang baik.*

Kalau kita membayangkan anak- anak itu sebagai bibit (biji), maka biji itu...
~tidak kelihatan batangnya,
~tidak kelihatan akarnya, dan
~tidak kelihatan daunnya
*karena ia masih biji.*
Sehebat apapun sebuah biji, maka
tidak akan kelihatan semua komponennya.

Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh berkembang, maka..,
~akan terlihat batangnya,
~akan terlihat daunnya,
~akan terlihat buahnya,
~akan terlihat bunganya.
Tapi saat itu masih berupa biji belum terlihat.

Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap.
*Lalu kita ingin biji ini..*
punya semuanya.
Punya bunga dan lainnya.
Tentu tidak bisa.....!

Untuk menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu..
memerlukan waktu, memerlukan proses penumbuhan.
Biji yang baik juga membutuhkan lahan yang subur.
*Di mana lahan yg subur itu?*

Di antaranya:

*1. Di rumah.* Rumahnya harus menjadi lahan yang subur.

*2. Di sekolah.*

*3. Di antara rumah dan sekolah,*
yaitu di lingkungannya.

Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan
*maka bayangkan seperti kita menumbuhkan biji itu.*

Karena itu saya sering mengatakan
*jangan gunakan kata membentuk,*
apalagi kalau akhlaq....

*Akhlaq itu ditumbuhkan,*
*karakter itu ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.*

Dulu...
saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman yang satu dipasang dekat matahari,
yang satu jauh dari matahari.
*Beloknya beda bukan?*
Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama,
*arah tumbuhnya sama tidak?*
Maka jawabannya tidak sama..!.
Jadi kita mau belok kanan- belok kiri itu
*bukan daunnya yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda.*
Cuacanya diatur, lokasinya diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah,
*mengelola sebuah intitusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa.*

Sebagai contoh,
di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi
*anak yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya.*

Misalnya sebuah keluarga dengan empat anak.
Kita buat setiap kamar ada kamar mandinya agar semuanya rapi bersih semua. Kamar mandi di dalam kamar.

Sementara keluarga yang lain, dengan empat anak juga memiliki rumah dengan kamar mandi satu, di luar kamar.
Maka apa yang terjadi?

~Keluarga yang pertama
*anak-anaknya tumbuh individualis*
Semuanya diselesaikan sendiri. Keluar kamar semua sudah bersih.

~Sedangkan keluarga kedua,
anak-anak tiap hari rebutan kamar mandi:
Ada yang sikatannya lama, ada yg kalau mandi harus diketok-ketok, ada yang sering samponya ketinggalan.
Mereka akan
*tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga pertama.*

Oleh karena itu jangan bayangkan pendidikan itu sesuatu yang tertulis, dibaca, dihafalkan, lalu diuji.
*Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan.*

Jadi kita bisa merancang anak kita
*sesuai skenario yang kita buat.*
Karena itu kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendididkan adalah
*bagaimana membuat aturan main yang membentuk perilaku.*

Saya berharap kita yang bergerak dalam bidang pendididkan memikirkan rekayasa itu.

*Sekolah kita hari ini:*
~anaknya abad 21,
~gurunya abad 20,
~ruang kelasnya abad 19.

Kalau mau memikirkan sekolah dan pendidikan,
*maka pikirkanlah masa depan.*

Rekayasalah
untuk masa depan.
Umat islam gagal atau berhasil bukan masalah mampu dan tidak mampu,
*tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan.*
ini PR -nya.

Karena itu kalau mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang kita...
*jangan lihat hari ini.*
Bijinya di nilai nanti kalau sudah tumbuh *baru akan nampak dan bisa dinilai, biji, daunnya, dan batangnya.*

Jangan terlalu puas dengan penilaian hari ini.
*Penilaiannya besok, karena inilah proses penumbuhan.*
Sehingga kami berharap Anda yang mengelola bidang pendidikan
*jangan puas dengan ukuran hari ini dan siapkan masa depan.*

Dalam proyeksi pendididkan abad 21 ada

*3 komponen yang mendasar :*
*1. Karakter/akhlaq*

~a. karakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati)

~b. karakter kinerja (ulet, kerjakeras, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas)

*2. Kompetensi* (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif / kerjasama)

*3. Literasi/Keterbukaan wawasan*
(baca, budaya, teknologi, keuangan)

Di masa sekarang, dalam ujian anak-anak disuruh menjawab pertanyaan di sebuah kertas.
*Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa pertanyaan.*

Tukang pos bersaing dengan teknologi: WA, email.

Profesi hari ini belum tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada anak-anak besok mau membuat apa.
*Jangan bertanya mau jadi apa...?!*

Pengelola pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu,
*tapi gelisahlah dengan masa depan...!!!*.

Kemenangan itu disiapkan di ruang keluarga dan di ruang kelas.

Selasa, 31 Oktober 2017

GURU HEBAT

By on 31.10.17

11 HAL YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENJADI PENDIDIK HEBAT

1. Ubah pola berfikir anda:  pembelajaran bukan tentang bagaimana guru mengajar tapi bagaimana siswa itu dapat belajar

2. Jangan hanya pelajari materi pembelajaran tetapi pelajari pula tingkah laku anak didik anda,   

3. Sampaikan tidak hanya dengan lisan tapi gunakan seluruh anggota tubuh untuk berkomunikasi kepada Siswa

4. Tunjukkan kepada siswa pentingnya belajar dimanapun dan  kapanpun juga. (Belajar tidak hanya di Sekolah saja)

5. Pastikan anda sudah mengaktifkan potensi VAK (visual, auditori, kinestetik) ke semua siswa

6. “Hukum durasi 20-30 menit” (sesuai penelitian siswa hanya mampu bertahan konsentrasi 20-30 menit, maka variasikan kegiatan belajar mengajar anda setiap 20-30 menit)

7. Lakukan dialog bukan monolog,

8. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada siswa
    
9. Tularkan emosi positif dan sikap optimis di depan siswa      

10. Bimbinglah anak belajar dengan cara belajar mereka sendiri. (Bukan anak tidak mau belajar tapi anak belum menemukan cara belajar yang sesuai untuknya)

11. Tampillah menarik di depan siswa. Tidak hany dalam pakaian  tetapi dengan menampilkan kepribadian yang menarik agar siswa tertarik dengan Pembelajaran yang anda sajikan.

------
Selamat menghebatkan diri Bapak/Ibu Guru ☺

Tim Pengembangan Kurikulum Kemendikbud. (TPKK)
*Sebarkan info ini ke seluruh Guru di Indonesia*
_Semoga Bermanfaat_

Rabu, 27 September 2017

BAGAIMANA MENGELOLA KELAS DENGAN BERAGAM CORAK SISWA?

By on 27.9.17

Bagaimana mengelola kelas dengan siswa yang memiliki berbagai corak pribadi, sifat, dan kebutuhan? Bagaimana pula bisa berwibawa di hadapan siswa yang secara fisik dan usia tak jauh beda dengan kami sebagai guru muda?

(Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta PPG-SM3T UNM pada acara dialog akhir pekan, 17 September 2017)

Beberapa jawaban telah saya berikan pada acara tersebut. Tapi saya ingin menuliskan kembali perpektif saya atas permasalahan tsb, menambah beberapa penjelasan yg relevan. Berharap ada pemikiran tambahan dan atau penjelasan berbasis pengalaman dari para pembaca.

----------

Pengelolaan kelas adalah bagian penting yang menentukan kelancaran dan keberhasilan proses pembelajaran. Melalui pengelolaan kelas yang baik, guru bisa memastikan bahwa siswa telah berada dalam posisi, tatanan, dan kesiapan untuk mengikuti seluruh aktivitas yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yg efektif.

Tentu saja tak mudah mencipatakan suasana kelas yang kondusif. Terutama pula mengingat bahwa yang dihadapi, yang mau diatur adalah makhluk hidup yang punya jiwanya sendiri. Punya kemauan, kecenderungan, kebiasaan, pemikiran, tipologi kepribadian, pengalaman, emosionalitas, dan berbagai karakteristik yang beragam dan kadang saling bertentangan. Apalagi yang dihadapi adalah individu yang sedang berada dalam fase adolensensia yang oleh para ahli disebut sebagai fase 'ombak dan badai'.

Berikut adalah beberapa penjelasan berdasar perspektif, pemahaman, dan acuan referensi saya. Kita bisa bersetuju ataupun berbeda pandangan atas pemikiran ini.

Pertama, dibutuhkan kemantapan pribadi, stabilitas emosi, dan kematangan jiwa untuk mampu menghadapi keadaan kelas dengan corak seperti itu. Ketidakmatangan mental hanya akan memicu kekisruhan kelas.

Michael Linsin (2011) menyebutkan, ada enam sifat pribadi guru yang bisa menyebabkan pengelolaan kelas sulit dilakukan. Keenam sifat yang dimaksud, meliputi:

1. Impatience (tak sabaran)
2. Quick To Anger (gampang marah)
3. Pessimism (pesimis, gampang menyerah)
4. Irritability (mudah kesal, ‘koro-koroang’)
5. Overly Sensitive (terlalu sensif, ‘baper’ —bawa perasaan)
6. Easily Frustrated (gampang frustrasi, mental rapuh)

Tugas pertama guru dalam pengelolaan kelas adalah berusaha mengelola diri lebih dahulu agar tidak dikendalikan oleh salah satu atau lebih dari sifat-sifat tsb ketika sedang berada di kelas. Ini memang tak mudah karena guru juga adalah manusia yang punya jiwa dan emosi, sementara banyak guru tidak terlatih dalam pengelolaan emosi. Namun bagaimanapun, kemampuan mengendalikan keenam sifat itu sendiri adalah hasil belajar, dan karena itu bisa dibentuk dan dipelajari. Pengalaman demi pengalaman akan bisa mematangkan guru menghadapi rupa-rupa kegaduhan kelas yang memancing emosi.

Kedua, menghadapi beragam tipologi kepribadian dan sifat anak di kelas menuntut dimilikinya banyak bekal ‘jurus’ pula. Setiap tipologi dan sifat khas anak membutuhkan kiat tersendiri untuk menghadapinya. Guru yang hanya bermodalkan satu-dua jurus akan kewalahan menghadapi ‘tantangan’ dari rupa-rupa keinginan, kebutuhan, dan kecenderungan siswa di kelas. Itu sebabnya guru dituntut mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan cinta belajar agar bisa terus melengkapi dan mengupdate diri dengan beragam “jurus” yang dibutuhkan menghadapi kemajemukan siswa di kelas.

Di samping itu, guru juga perlu memiliki kemampuan melakukan “shift-gears”—memiliki fleksibilitas untuk mengatur ‘gigi’ sesuai kondisi ‘jalanan’ yang dihadapi di dalam kelas. Kapan harus berjalan dengan gigi satu, dua, tiga, empat, atau lima. Kapan perlu tancap gas dan kapan harus pelan-pelan atau bahkan berhenti dan mundur. Inilah esensi dari penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Guru yang menjalankan pembelajaran hanya mengacu pada skenario yang telah disusun, lalu tancap gas sesuai batas waktu yang telah ditetapkan demi mengejar target kurikulum, dan mengabaikan siswa yang tak bisa mengikuti irama sang guru, maka ia sesungguhnya sedang menerapkan pendekatan berpusat pada guru (teacher centered).

Ketiga, ragam dan variasi corak sifat, potensi, dan kecenderungan antarsiswa adalah potensi yang perlu dimanfaatkan sebagai sumber bagi siswa untuk saling belajar, saling mengisi, dan saling melengkapi satu sama lain. Siswa dengan kapasitas dan kecepatan belajar lebih bisa dimanfaatkan untuk memberi energi belajar bagi siswa yang memiliki kapasitas dan kecepatan belajar yang lamban. Siswa ekstrovert (cenderung aktif, mendominasi, ekspresif) bisa menjadi partner saling melengkapi dengan siswa introvert (cenderung tenang, tak banyak bicara, fokus) dalam pembelajaran berbasis koperatif. Variasi tipe/gaya auditif, visual, dan kinestetik atau ragam kekhasan dalam kecerdasan ganda di antara siswa bisa jadi kekuatan saling melengkapi dalam menyelesaikan tugas belajar bebasis projek. Tantangan guru adalah menjadikan kelas dengan ragam corak pribadi tsb menjadi learning-community, masyarakat belajar.

Keempat, wibawa adalah kualitas pribadi yang membuat seseorang bisa disegani dan dipatuhi. Kata-katanya didengar dan diikuti. Wibawa sendiri diperlukan bukan untuk kepentingan sang guru, melainkan demi kepentingan siswa sendiri, yaitu agar mereka bersedia terlibat secara mental dalam aktitivitas pembelajaran yang dirancang oleh guru.

Wibawa lebih berkaitan dengan kualitas mental, bukan kegarangan penampilan fisik. Karena itu, setiap orang apapun keadaanya (tinggi-pendek, gagah-tidak gagah, gemuk-kurus, tua-muda, yunior-senior, bahkan cacat fisik sekali pun) bisa membangun citra diri berwibawa. Beberapa kualitas mental yang menjadi pondasi dasar membangun wibawa, antara lain: percaya diri, tenang, kualified, kompeten, tegas, konsisten, satunya kata dg perbuatan, atau sifat apapun yg karenanya orang lain (siswa) menjadi kagum dan respek. Dan semua sifat dan kualitas peribadi seperti ini adalah hasil belajar. Bukan bawaan herediter. Karena itu bisa dipelajari dan dikuatkan pada diri sendiri. Masalahnya, apakah kita bersedia bersusah-susah “menggoreng diri” (terus belajar, meretrospeksi diri, memperbanyak pengalaman, meninggalkan zona nyaman) demi melengkapi diri dengan semua sifat positif tersebut?

#catatan_refleksi_diri_sebagai_pendidik

Kamis, 17 Agustus 2017

Generasi Islam Indonesia Merdeka

By on 17.8.17

Kita adalah generasi dari Soekarno
Kita adalah para penerus semangat Indonesia
Namun kemana Seokarno-Seokarno muda itu pergi?
Kemana cita-cita yang dulu kita pekikkan bersama teriakan merdeka itu, kinu tak kunjung datang

Jumat, 30 Juni 2017

Umat Islam Harus Belajar Hukum

By on 30.6.17

KAMI UMAT ISLAM HARUS LAPOR KEMANA?

CURHAT SEORANG PENGACARA
Lawyer sekelas Eggy Sudjana aja bingung...

KAMI UMAT ISLAM HARUS LAPOR KEMANA?

1|. Diduga kuat telah terjadi tindak pidana yang dilakukan oleh sekumpulan orang, terstruktur, terorganisir dan massif, yang dilakukan secara sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Agama (ISLAM).
2|. Div Humas Mabes Polri mengunggah video yang pada pokoknya berisi adegan orang kristen yang sedang sekarat di dalam ambulan, tidak perkenankan lewat oleh jamaah pengajian orang Islam, padahal orang yang sekarat itu sangat membutuhkan pertolongan dan akses menuju rumah sakit.

3|. Konten/informasi dalam video tersebut jelas keliru, fitnah yang sangat kejam terhadap umat Islam, dan merupakan sarana untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Agama (ISLAM).

4|. Video tersebut melanggar ketentuan Pasal 28 ayat (2) UU ITE:
"Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)".

5|. Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

6|. Berdasarkan ketentuan pasal 21 ayat 4 KUHAP, semua Tersangka pengedar video SARA yang diunggah Div Humas Polri dapat langsung ditahan, karena ancaman pidana pasal 28 ayat 2 UU ITE diatas 5 (lima) tahun.
7|. Unsur "Setiap Orang" dalam pasal 28 UU ITE dapat meliputi siapa saja yang memiliki andil dalam penyebaran video SARA yang diunggah Div Humas Mabes Polri. Secara institusi yang wajib bertanggung jawab adalah: Divisi Humas Polri, Lembaga Penjurian Video, Lembaga/rumah produksi Pembuat Video dan seluruh lembaga sponsor.

8|. Karena pertanggungjawaban pidana hanya diberikan kepada orang bukan lembaga, maka yang wajib diperiksa dalam kasus video SARA adalah Sang Sutradara Film, Seluruh Aktor dan Kru, kepala Div humas Mabes Polri, penanggung jawab Sponsorship dari mitra.

9|. Karena tindak pidana tidak saja diberlakukan kepada para pelaku utama tetapi juga terhadap siapa saja yang menyuruh, membantu, atau turut serta melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, maka Kapolri juga harus diperiksa untuk memastikan ada atau tidaknya keterlibatan baik secara aktiv maupun secara pasif berupa persetujuan, hingga akhirnya video SARA tersebut beredar luas di masyarakat.

10|. Unsur "dengan sengaja" dalam Kasus video SARA yang diunggah div humas Mabes Polri dapat dibuktikan dengan teori sengaja kemungkinan. Meskipun sengaja dengan maksud maupun tujuan, dapat ditepis pihak Sutradara dengan berdalih tidak ada niat dan maksud untuk memfitnah umat Islam dan memecah belah kelompok individu dan masyarakat. Tetapi secara kemungkinan, pihak Sutradara patut melihat kuat adanya kemungkinan ketersinggungan umat Islam dan potensi pecah belah masyarakat dari video yang di produksi.

11|. Unsur "tanpa hak menyebarkan informasi" harus dimaknai dalam konteks tanpa hak mendeskreditkan persepsi umat Islam dalam video yang digambarkan intoleran dan sadis. Seharusnya, sang Sutradara harus meminta izin terlebih dahulu kepada seluruh umat Islam sebelum mendistribusikan video SARA tersebut atau setidak-setidaknya meminta izin untuk menggunakan hak mendistribusikan video SARA melalui perwakilan umat Islam di Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi umat Islam.

12|. Unsur "menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)" adalah unsur objektif bukan subjektif. Unsur ini dikembalikan kepada dua hal. Pertama, keterangan saksi fakta dari masyarakat yang merasa tersinggung dan tidak terima dengan video SARA tersebut. Kedua, keterangan dari saksi ahli yang menjelaskan bahwa video SARA tersebut memang tidak layak disebarluaskan. Mengenai adanya ketersinggungan umat Islam, ini merupakan fakta yang sangat jelas dan tidak dapat dipungkiri.

13|. Dalam konteks akademis, Video SARA tersebut bukanlah produk ilmiah sehingga tidak perlu diverifikasi secara akademis. Kalau-lah video ini dianggap karya cipta akademis, maka tetap saja harus diproses pidana sebagaimana Tesis HRS yang juga diproses hukum oleh Polda Jabar, termasuk buku Jokowi Under Cover. Silahkan pilih, video SARA mau disetarakan Tesis atau Buku Karangan Bambang Tri, yang jelas keduanya telah diproses pidana.

14|. Merujuk pada unsur "Barang Siapa" yang secara nyata melibatkan banyak pihak, maka semua pihak yang terlibat dalam proses produksi, penjurian, evaluasi, penentuan kemenangan, pendistribusian via jejaring sosial, seluruh sponsor, hingga admin akun div humas Polri harus diperiksa, dan BERPOTENSI MENJADI TERSANGKA Serta DAPAT LANGSUNG DITAHAN (DIPENJARA).

15|. PERMINTAAN MAAF SANG SUTRADARA TERMASUK PENGHAPUSAN VIDEO DARI AKUN SOSMED DIV HUMAS POLRI TIDAK DAPAT MENGHILANGKAN UNSUR PIDANA YANG TELAH DITIMBULKAN.

16|. Tetapi RAKYAT DAN UMAT ISLAM BERTANYA, MAU LAPOR KEMANA ? KEPADA SIAPA ?

17|. Mau Lapor ke MABES POLRI ? Ke Polda? Polres ? Polsek ? ADAKAH JERUK MAKAN JERUK ? Sampai disini kita bisa memahami kenapa HRS tidak lapor balik fitnah chat Firza Husein ke Mabes Polri.

18|. Mau lapor ke PRESIDEN? Bukan-kah Kapolri ada pada kendali Presiden sehingga semua kebijakan penegakan hukum ada pada kendali Presiden ? Mau berdalih tidak mau intervensi HUKUM ?

19|. Akhirnya rakyat dan Umat Islam mengadukan semua kedzaliman ini hanya kepada Allah SWT dan menyampaikannya kepada publik. Hanya Allah SWT, sebaik-baik penolong dan Dzat maha pemberi keadilan.

وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَڪِيلُ

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." [QS Ali Imran: 173]

Selasa, 16 Mei 2017

Islam Indonesia dan Ulama

By on 16.5.17

Semoga Islam mampu membangkitkan negeri Indonesia ini dengan cahayanya. Semoga umat Islam Indonesia mampu menjadi seperti rembulan yang meneruskan cahaya Islam. Inilah tugas jangka panjang Ulama untuk mengingatkan ummat. Jika saat ini Ulama terpaksa maju di barisan depan tentu itu artinya ummat Islam Indonesia telah mencapai titik yang mengkawatirkan.

Diamnya Ulama tentu akan menyebabkan kerusakan yang fatal, diamnya ummat Islam dari seruan kebenaran juga adalah sumber kerapuhan. Dimana ketika negeri Indonesia ini dalam keadaan kritis dan rakyatnya rapuh saat itulah penjajahan fisik akan menimpa negeri ini, seperti negeri Islam lainnya yang terlambat menyambut seruan Ulama untuk kembali ke kebenaran Islam yang hakikatnya untuk kebaikan kita semua.

Rabu, 12 April 2017

Turut Mendoakan Reprensentasi KPK, Novel Baswedan

By on 12.4.17

Penjajahan dinegeriku saat ini bukanlah dengan kekerasan atau senjata namun dengan cara halus melalui penjajahan spiritual (mental), ekonomi (pengangguran), dan pendidikan (kebodohan).

Teror yang sebenarnya bukanlah menarget bangunan atau sekelompok orang, namun ancaman kepada diri seseorang, seperti yang terjadi pada Novel Baswedan, pernah ditabrak dan kini disiram air keras.

In syaa Allah setiap kesakitan yang diterima seorang muslim mampu menghapus dosanya sehingga meninggikan kedudukannya. Teror yang sesungguhnya adalah digunakan untuk menekan kebaikan, dan pelakunya pantas disebut Teroris. Naudzubillah.

Minggu, 02 April 2017

Tanya Jawab Seputar Islam

By on 2.4.17

🌹PERTANYAAN
Dari  :  SR (TFD 3)

Assalamualaikum ustad, apakah bisa tercapai sakinah mawadah warahma-nya pernikahan apabila pernikahan itu di landaskan salah satu dari pasangan memakai pelet untuk mendapatkan si pasangan, terus ustad apa bedanya guna2 dari kaya dukun dengan amalan2 pengasih dari ayat2 suci gitu. Satu lagi tad adakah amalan2 untuk terhindar dari pelet atau guna2 tersebut baik dari dukun atau ayat2 suci itu? Sebelumnya terimakasih ustad

🌷JAWABAN

Www.
1. Saya tidak tahu apakah bisa menjadi sakinah mawaddah dan rahmah jika si perempuan dipelet atau sejenisnya. Karena yang memberikan rasa cinta adalah ALLAH. Orang yang menikah dengan rasa cinta saja pun terkadang tidak mendapatkan rasa sakinah tersebut.

2. Sihir atau guna2 dilakukan oleh penyihir yang dibantu oleh setan dan biasanya menggunakan cara2 terlarang

3. Menjaga perintah2 ALLAH, menjauhi maksiat, banyak berzikir khususnya zikir untuk perlindungan diri

👳 Hb. Ahmad Ghozali Assegaf

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂

Jumat, 31 Maret 2017

Dewangga Pradhana Undercover Bag. 1

By on 31.3.17

Kalau beberapa orang menganggap saya manusia yang hemat maka sebenarnya saya boros. Dalam hal pengeluaran materi saya sanggup berhemat namun boros dalam memangfaatkan waktu. Bahkan bisa dianggap berfoya-foya dengan waktu.

Hal itu bisa saya ubah ketika momen pernikahan. Sebuah ibadah sakral yang menjadikan saya seorang suami yang nantinya bertanggung jawab terhadap istri dan anggota keluarga yang saya pimpin.

Selasa, 28 Maret 2017

Kenapa Umat Islam Di Takuti

By on 28.3.17

Berbagai kebuntuan dakwah di negeri-negeri muslim pasti solusi jawabannya ada di satu bagian akar yang sama. Bahkan sangat tepat untuk menjawab tantangan bangsa Indonesia saat ini.

Saya sadari hal ini ketika dengan izin Allah SWT saya berkesempatan membangun ukhuwah sampai Irian Jaya saat itu. Merasakan bagaimana menjadi minoritas dst.

Jamaah seperti NU, Muhamadiyah, PKS, HT, Salafi, Persis, FPI, Jamaah Tablik, Dewan Dakwah dan banyak lagi ormas Islam yang berkorban dalam bagian bagian tertentu sebut saja Bulan Sabit Merah pada bagian kesehatan, ada juga bagian zakat, bahkan sampai MUI mereka mempunyai permasalahan utama yang harus dilalui untuk mencapai tujuan mulianya yang solusinya berada di ormas lain atau tempat lain bahkan diwaktu yang lain (masa lalu). 

Benar, jawaban kemacetan Salafi ternyata ada di Jamaah Tablik, keterbatasan NU ternyata solusinya ada di HT, solusi tantangan yang di hadapi FPI berada di Muhamadiyah dst. Sayangnya komunikasi mereka terbatas untuk saling membantu atau malah sengaja dibatasi, dan memang tidak akan dibiarkan ormas Islam menjadi besar karena Ancaman akan sangat besar. Telah terbukti bagaimana segelintir orang di negeri ini berkumpul untuk menegakkan keadilan di jakarta mulai dari 2 juta meningkat menjadi 7 juta jiwa.

Singkatnya mereka belum bersatu, inilah yang belum bisa di capai. Kebanyakan manusia meremehkan arti persatuan meskipun dalam hati setiap orang yang sadar dan waras menginginkan kebersaan dan persatuan tersebut. Menjaga persatuan bukan hal mudah seperti setiap hal baik lainnya, apalagi semakin tidak mudah karena campur tangan pihak yang serakah dan ingin menguasai dunia ini (invisible hand). Pihak yang bahkan berhasil menimbulkan sekat antara polisi dan TNI sehingga timbul gesekan-gesekan yang merusak persatuan dikalangan mereka, padahal logikanya mereka sama-sama pihak yang menjadi penjaga NKRI, inilah sebagian yang saya maksud diatas dapat menjawab tantangan negeri ini. 

Setiap insan berpendidikan mengetahui bahwa dengan persatuan, mampu menghasilkan kekuatan yang besar, dan mengatasi keterbatasan.

Satu bagian yang muncul dari pola pikir umat Islam bagaimana mengatasi kebuntuaan dalam gerakan organisasi.

Jawabannya ada pada PERSATUAN yang kokoh minimal dengan satu komando.

Perhatikan bagaimana organisasi sebesar Nu yang ketika dibawah satu komando mampu mengantarkan kader terbaiknya menjadi presiden yaitu Gus Dur, dan ketika beliau menunjukkan kapasitas terbaiknya untuk Agama, Bangsa dan Negara, maka invisible hand yang ingin menguasai bangsa ini dengan segala daya upaya berusaha mengantikan beliau.

Jumat, 24 Maret 2017

MULAILAH MENJADI MUSLIM YANG MEMBERI KEBAIKAN MULAI SAAT INI JUGA

By on 24.3.17

AYO BANTU SAUDARA KITA DI SURIAH, PALESTINA, MYANMAR...

MEREKA BILANG, ADA ADA AJA, PADAHAL YANG DEKET BANYAK YANG JUGA BUTUH BANTUAN, MALAH MEMENTINGKAN SAUADARA DI LUAR NEGERI...

MEREKA KAN SAUDARA KITA, MALAH JAUH MEMBUTUHKAN


AKHIRNYA ALLAH MENJAWAB PERMINTAAN MEREKA, 




411 - 2,5 JUTA LEBIH MUSLIM BERKUMPUL DIJAKARTA DAN KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA, 

AKSI SELANJUTNYA 212 - 7 JUTA LEBIH MUSLIM BERKUMPUL DIJAKARTA DAN SEKITARNYA 

MEREKA BERSIKAP SINIS DAN SEMAKIN MENJADI, MENYEBUT AKSI 212 DENGAN BERBAGAI KEBURUKAN, KEMUDIAN DIBALAS DI BERBAGAI TEMPAT, KEBENARAN AKHIRNYA MUNCUL BERTUBI-TUBI MEMBANGKITKAN KESADARAN UMAT ISLAM

SAYANGNYA SEBAGIAN BESAR MUSLIM TURUT TERPENGARUH DENGAN PROPAGANDA NEGATIF MEDIA DAN TERTUTUPI KEBIASAAN BURUK MEREKA, NAMUN KEMBALI DIBALAS OLEH ALLAH DENGAN BERTUBI KESALAHAN PARA PERUSAK ISLAM SEMAKIN MENYADARKAN UMAT ISLAM.



 APAKAH RUMAH DAN SEISINYA ITU BISA DIGANTI DENGAN KASUR, BANTAL DAN SELIMUT BARU?
APAKAH TRAUMA INI BISA DILUPAKAN DENGAN MUDAH?


JIKA ANDA PERNAH TERKENA BANJIR ANDA AKAN TAHU, BANTUAN ANDA JAUH TIDAK BERNILAI DIBANDINGKAN  KERUSAKAN YANG ANDA DERITA, NAMUN KEPEDULIAN ANDALAH YANG JAUH LEBIH MENGOBATI KESEDIHAN MEREKA

Selasa, 28 Februari 2017

Ciri Khas Setiap Manusia

By on 28.2.17

Pola adalah satu ciri khas yang selalu melekat dalam setiap aktivitas, tanpa sadar kita sering melakukan pola yang sama. Kesadaran tentang pola dapat menjadikan kita peramal masa depan yang hebat.

Sebagai seorang guru matematika saya sering membuat soal bagi peserta didik dan tanpa sadari angka-angka yang sama muncul dan inilah pola yang awalnya tanpa saya sadari muncul

Rabu, 22 Februari 2017

MUSLIM BERSATU DALAM LANGKAH

By on 22.2.17

Geram memang, mengetahui bagaimana keadaan umat Islam saat ini yang tercerai berai karena pemberitaan yang tidak adil, ditambah penegakkan hukum yang tebang pilih dan seambrek kasus penyimpangan dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat beragama di negeri ini tidak selayaknya demikian, terlebih umat Islam. Menilik kembali dari setiap ajaran Islam yang telah lengkap maka tidak ada keraguan lagi untuk kita mampu mengatasi hal tersebut.

Sebagai contoh: Umat Islam yang pada umumnya, masih goyah ketika dihadapkan dengan urusan materi dan dunia. Akibatnya menghadapi para milyaderpun kita menjadi pesimis, mereka adalah pemilik modal triliyunan rupiah, dan ingin menguasai negeri ini, kesempurnaan Islam membuat mereka tidak punya pilihan selain harus menghancurkan Islam, agar keserakahan mereka tercapai.

Apa yang bisa kita lakukan, melawan penjajahan kasat mata yang mencengkram kesegala bagian vital negeri ini.
Jika kita seorang muslim yang tidak gentar dihadapkan dengan materi dan dunia maka jawabannya mudah sekali.

Selasa, 17 Januari 2017

Menganti Sekaligus Menghapus Label di Blog Secara Keseluruhan

By on 17.1.17

1. Pada dashboard blogger klik Pos. 
2. Perubahan yang saya lakukan adalah menganti label yang belum huruf kapital seperti "inspirasi" menjadi "Motivasi". Cara Mengganti Nama Label Pada Postingan Blog Keseluruhan 
3. Caranya adalah dengan mengklik Semua label yang berada di sebelah kanan atas. Lalu klik "inspirasi" Cara Mengganti Nama Label Pada Postingan Blog Sekaligus 
4. Klik tombol "Centang" yang paling atas, agar semua yang dibawah juga ikut tercentang. Setelah itu pada "icon label" klik Label baru 

Level Game versi Gamer-IR

By on 17.1.17

Posting kali ini sedikit spesial, karena berisi prediksi masa depan yang berfokus pada Model Permainan Game, sehingga terbagi dalam beberapa model

Kalau menurut saya model permainan dalam game bisa dibagi dalam beberapa

Level 1 - adalah model permainan yang dimainkan searah artinya game ini memiliki sebuah cerita yang nantinya akan berakhir dan hanya cocok dimainkan sekali saja dan jika dimainkan ketiga atau seterusnya sudah semakin tidak menarik.

Level 2 -  adalah game yang bisa dimainkan berulang-ulang karena bersifat bolak balik, kita tidak akan bosan karena mengskplore bukan hanya pada cerita namun pada skill permainan kita seperti Moto GP atau PES.

Level 3 - adalah game yang yang tidak hanya bisa dimainkan berulang namun juga melibatkan pihak ketiga, atau dimainkan secara multiplayer, dengan adanya teknologi internet hal ini bisa terwujud dimana orang dari penjuru dunia manapun mampu terhubung dalam sebuah permainan dengan berbagai adat, budaya dan skill yang beraneka ragam. Contoh permainannya adalah COC dan CR. -menurut hemat saya Dota 2 saat ini masih pada level ini-

Minggu, 08 Januari 2017

Kebrutalan Tentara Barat adalah Kedok Ketakutan

By on 8.1.17

Kebrutalan tentara barat yang kini ditampilkan di media dunia adalah  kedok ketakutan mereka akan keadaan buruk dalam militer mereka secara keseluruhan. Sebelum kedok itu terendus mereka menampilkan kebrutalan menyerang negara yang jauh lebih lemah dan pasti mereka menang. Setelah kedok itu muncul kemungkinan besar mereka akan melakukan sandiwara perang antar negara yang seimbang.
Jika menurut anda alasan perang saat ini adalah karena minyak maka itu hanya selingan bahkan pengalih untuk menguatkan kedok mereka. Sekarang alasan digeser dari minyak menuju agama agar tampak semakin runyam, jika anda menjadi bingung itulah tujuan perang tersebut dan sekali lagi agama bagi mereka adalah selingan.
Seorang muslim yang terbiasa membedakan antara baik dan buruk lebih jeli melihat ketidak jelasan ini, bahkan mampu melihat jauh kedepan. Ayo menjadi muslim yang berkwalitas dan mampu membedakan yang baik dan buruk. Media saat ini adalah alat yang digunakan untuk menumpulkan kemampuan kita membedakan.

Rabu, 04 Januari 2017

Keluar Dari Tekanan

By on 4.1.17

2-3 januari

Rasanya semakin kita memikirkan masa depan semakin terasa beban berat menekan dari segala penjuru.

Keluar dari tekanan merupakan bagian yang pasti ada bersama setiap ujian yang akan menguatkan kita.

Tekanan yang mungkin serupa dengan yang diberikan kepada tempayan oleh pembuatnya.

namun demikian, sebagai manusia Aku berusaha keluar dari tekanan, bahkan menekan diri sendiri agar mencapai tempat yang lebih lapang.

dan cara yang kupikirkan adalah dengan memindah fokus bukan pada diri kita namun pada orang lain yang lebih kurang beruntung dari kita.

kenyataanya ini saja tidak cukup, yang lebih baik jika dengan pemahaman itu mampu menghasilkan tindakan nyata, yaitu membuat orang lain bahagia sehingga kita mampu ikut berbahagia


Sedangkan bagaimana kehidupan mengeluarkan kita dari tekanan, cukup dia memberikan rejeki yang lebih dari kita harapkan, dari tempat yang tidak kita sangka-sangka. Allahuakbar.

Membulatkan Hati

By on 4.1.17

4 januari

Membulatkan tekat artinya berusaha menahan diri dari setiap godaan agar mampu mencapai apa yang ia yakini.

namun tekat itu adalah absurb maka ku tulis membulatkan hati.

seperti juga meyakini keimanan harus disertai membulatkan hati untuk menjalani konsekwensi iman dalam bentuk taqwa. Sehingga meluncurlah pasangan kata iman dan taqwa.

Semoga jika kita mampu melewati ujian dari kebulatan tekat kita, kita mencapai derajat yang lebih baik. Allahuakbar.

Minggu, 01 Januari 2017

Membakar ikan dan jagung

By on 1.1.17

I januari

yang pertama paling kita butuhkan adalah membuat perapian yang baik, yaitu yang arangnya tidak mengeluarkan api, bahkan untuk mengendalikan api sempat dipakai cipratan air.

Ikan yang sudah diolesi minyak dan bumbu, kemudian di bakar sampai setengah matang kemudian di balik sambil kembali diolesi minyak dan bumbu.

Ikan juga di sasat agar lebih luas daerah yang terkena api sehingga lebih cepat matang.